SE. UJIAN AKHIR SEMESTER GASAL TA. 2025-2026
SE.-UJIAN-AKHIR-SEMESTER-SEMESTER-GASAL-TA.-2025-2026Unduh file di sini Download
[next_prev_buttons]
Unduh file di sini Download
[next_prev_buttons]
Tim Asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) terdiri dari dua pakar: Dr. Hisyam Zaini, M.A. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Prof. Dr. Muh. Nashirudin, M.A., M.Ag. dari UIN Raden Mas Said Surakarta, dan satu orang utusan dari BAN-PT sendiri.
Penyelenggaraan asesmen lapangan diawali dengan sesi pembukaan secara resmi oleh Ketua STAINU Madiun, dilanjutkan dengan sambutan dari tim asesor. Inti dari kegiatan ini adalah konfirmasi dan validasi data yang telah disubmit STAINU Madiun ke dalam Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online (SAPTO).
Tim asesor bekerja di ruangan terpisah, fokus mengkonfirmasi pemenuhan sembilan standar borang akreditasi, yang meliputi visi, tata pamong, mahasiswa, SDM, sarana prasarana, serta capaian Tri Dharma (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian).
Setelah seluruh data dan bukti fisik dikonfirmasi, tim asesor juga memberikan pendampingan dan masukan konstruktif sebagai upaya perbaikan berkelanjutan bagi STAINU Madiun. Rangkaian kegiatan AL-APT ditutup dengan penandatanganan Berita Acara oleh perwakilan BAN-PT, Ketua STAINU Madiun, dan tim asesor. Seluruh civitas akademika STAINU Madiun kini tinggal menanti hasil akhir penetapan peringkat akreditasi institusi.
[next_prev_buttons]
Diskusi tersebut dimoderatori oleh Fikriyatul Ilmi, Lc., M.H., salah satu dosen STAINU Madiun. Narasumber utamanya adalah Dede Alien Efansyah, mahasiswa semester VII Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) STAINU Madiun, yang juga dikenal sebagai inisiator IBP (Indonesia Book Party) Regional Madiun, sebuah komunitas literasi aktif.
Dede mengulas novel terjemahan berjudul “Mencari Nama Tuhan yang Keseratus”, karya novelis dan jurnalis Lebanon, Amin Maalouf (judul asli: “Balthasar’s Odyssey”). Diskusi berlangsung sangat seru karena novel tersebut mengangkat tema yang kompleks dan menarik, meliputi kisah cinta yang pelik, benturan antaragama dan peradaban, renungan filosofis tentang kesejatian hidup, serta kronik sejarah yang kaya.
Sesuai dengan judul novel, pembahasan utama memicu pertanyaan mendalam bagi peserta. “Mencari Nama Tuhan yang Keseratus” membuat peserta, khususnya umat Muslim, penasaran apakah ada nama Allah ke-100 di luar 99 Asma’ul Husna yang telah dikenal. Pertanyaan filosofis ini membuka sesi diskusi dan tanya jawab yang sangat interaktif, melibatkan baik moderator maupun partisipan daring.
Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa STAINU Madiun dalam forum literasi publik ini menegaskan komitmen kampus untuk tidak hanya fokus pada akademik formal, tetapi juga pada pengembangan wawasan dan budaya membaca kritis di tengah perkembangan teknologi digital.
[next_prev_buttons]
Ummu Habibah secara lugas meyakinkan peserta bahwa Gen Z adalah kelompok strategis dengan peran besar dalam pembangunan negara. Ia menegaskan bahwa kekuatan mereka terletak pada jumlah dan akses terhadap informasi, yang memungkinkan Gen Z menjadi motor perubahan yang efektif. Menurutnya, berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi bukanlah sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral dan konstitusional bagi setiap warga negara muda.
Dalam pemaparannya, beliau merincikan dua jalur utama peran Gen Z: pendekatan elektoral (menggunakan hak suara secara cerdas) dan pendekatan non-elektoral (advokasi dan pengawasan kebijakan). Ia secara khusus menyoroti pentingnya literasi digital sebagai benteng pertahanan Gen Z melawan arus hoax dan narasi sesat yang merusak iklim demokrasi yang sehat.
Acara ini berhasil menjaring peserta dari kalangan pelajar SMA/SMK/MA di tiga wilayah, yaitu perwakilan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dari Kabupaten Nganjuk, Kota Madiun, dan Kabupaten Madiun. Kehadiran delegasi pelajar ini bertujuan memperluas pemahaman politik di tingkat akar rumput, menyiapkan mereka menjadi pemilih cerdas dan kritis menjelang pesta demokrasi.
Suasana acara terasa hidup dan dinamis, terlihat dari sesi tanya jawab yang berlangsung aktif dan kritis. Tingginya antusiasme peserta mencerminkan kesadaran Gen Z terhadap isu-isu kebangsaan. Kegiatan ini diharapkan menjadi stimulan bagi lahirnya agen-agen demokrasi muda yang bertanggung jawab dan melek teknologi.
[next_prev_buttons]
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang Pengabdian kepada Masyarakat. Tujuannya jelas: meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan pengasuhan anak usia dini langsung di garda terdepan desa. Kunjungan ini berfokus pada penguatan kapasitas kader Posyandu agar mampu menjalankan layanan kesehatan primer secara lebih komprehensif dan akurat.
Dalam kesempatan tersebut, Ummu Habibah menekankan peran penting Posyandu sebagai garda terdepan pemantauan pertumbuhan anak. Ia menegaskan bahwa melalui Posyandu ILP, kader wajib memastikan setiap anak mendapatkan layanan esensial, mulai dari imunisasi, gizi, hingga stimulasi perkembangan. Tim pembina memberikan pelatihan teknis, termasuk cara pengukuran antropometri (berat dan tinggi badan) yang akurat, pentingnya pencatatan di Kartu Menuju Sehat (KMS), serta teknik komunikasi efektif kepada orang tua terkait masalah gizi dan pola asuh.
Selain pembinaan, dilakukan pula monitoring langsung terhadap proses pelayanan Posyandu. Ummu Habibah mengamati proses penimbangan, penyuluhan, dan pemberian makanan tambahan (PMT), sembari mengapresiasi dedikasi para kader desa. Respon dari warga Desa Pule Sawahan sangat positif. Salah satu ibu balita, Ibu Siti, menyampaikan rasa terima kasih karena penjelasan tentang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan menjadi lebih mudah dipahami dan meningkatkan kepeduliannya terhadap gizi anak.
Ketua Program Studi PIAUD STAINU Madiun, Konik Naimah, M.Si., secara terpisah menegaskan bahwa kegiatan semacam ini adalah manifestasi kepedulian institusi terhadap masa depan generasi bangsa. Beliau menyatakan, “Kualitas tumbuh kembang anak usia dini sangat menentukan keberhasilan mereka di masa depan. Melalui sinergi akademisi dan masyarakat, kami berharap dapat mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.”
Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil menegaskan kembali peran strategis Dosen PIAUD STAINU Madiun sebagai agen perubahan yang tidak hanya fokus pada teori di kampus, tetapi juga aktif berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya dalam aspek perlindungan dan pengembangan potensi anak usia dini di tingkat desa.
[next_prev_buttons]