Tradisi Ilmiah 3 Menit Presentasi: Wujud Komunikasi antar Peneliti Dunia

Melbourne (24/11/2019), bertempat di Clayton Campus Monash University Australia satu persatu dari sepuluh peserta Short Course Overseas Research Methodology Diktis Kemenag RI 2019 menunjukkan penampilannya dengan presentasi proposal riset dalam waktu 3 menit. Ya, tiga menit atau 180 detik waktu yang sangat singkat untuk mempresentasikan sebuah proposal di depan khalayak umum. Tujuan utama dari tradisi ilmiah ini adalah untuk menyampaikan rencana atau hasil penelitian kita dengan cara yang sederhana dan mudah untuk diterima dan dipahami oleh audiens yang notabene di luar bidang keahlian kita. Sangat menarik, karena peserta ‘dipaksa’ untuk bisa mengemas presentasinya dengan cara yang sederhana dan padat namun tetap mempertahankan bobot dan kualitas isi proposal. Dengan berangkat dari tiga pertanyaan mendasar, what? how? dan why?. Bahkan tradisi 3 menit presentasi ini juga menjadi ajang kompetisi yang bergengsi di dunia akademisi Australia di setiap tahun.

Sangat kontras ketika kita membandingkan kebiasaan presentasi di negara kita yang bertele-tele dan terkesan membosankan karena prolog dan ‘basa-basi’ yang sangat panjang. Hal tersebut karena anggapan bahwa semakin banyak penjelasan dan teori yang ditampilkan maka akan semakin menarik dan berkualitas suatu tulisan, yang hingga saat ini (mungkin) anggapan tersebut masih menjadi panutan.

Berdasarkan paparan dua tradisi ilmiah yang sangat berbeda di atas, saya kira sangat penting dan merupakan suatu keharusan untuk mengadopsi tradisi 3 menit presentasi untuk diterapkan dan dibudayakan dalam kontestasi akademisi di negara kita Indonesia, mulai hari ini dan sekarang. Jika bukan kita yang mengawali, lalu siapa lagi??. Semoga menginspirasi. (Anis)