RELASI GENDER KELUARGA JAMA’AH TABLIGH

Islam secara tegas menyampaikan tentang prinsip persamaan bagi seluruh umat manusia. Prinsip tersebut menjadi sebuah nilai yang bersifat universal, artinya bias diterapkan kapanpun, di manapun dan oleh siapa pun tanpa memandang agama, golongan, ras, jenis kelamin dan lain sebagainya. Persamaan (equality) dan keadilan (justice) adalah kosakata yang sangat sensitive ketika menyentuh wilayah kajian gender. Kedua kata tersebut menjadi harga mati yang harus disuarakan dan diteriakkan oleh para pegiat gender ketika melihat praktek relasi yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Karena ketidakadilan itu muncul karena adanya dominasi dari salah satu pihak.

Buku ini mendiskusikan hasil interaksi saya dengan komunitas Jama’ah Tabligh, yang secara spesifik mengulas relasi gender yang mereka terapkan  dalam kehidupan  rumah  tangga. Selain itu, buku ini juga akan memberikan gambaran tentang aktivitas perempuan Jama’ah Tabligh baik sebagai anggota komunitas Jama’ah Tabligh sekaligus sebagai agen sosial yang memiliki peran dan turut  andil untuk kemajuan di lingkungan masyarakatnya, sebagai wujud dari pemberdayaan perempuan.

Relasi gender yang berdasar pada konsep neo-traditionalist (gender complemetarity), sangat berpengaruh terhadap kehidupan rumah  tangga  anggota  Jama’ah  Tabligh. Sebuah konsep  yang mengatakan bahwa laki- laki dan perempuan itu pada hakikatnya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Meskipun demikian mereka juga menuntut  bahwa perlu ada pembagian tugas yang jelas bagi suami dan isteri dalam keluarga. Suami bertugas di luar rumah  tangga (public sphere) mencari nafkah, sedangkan istri bertugas dalam urusan  intern  rumah  tangga (domestic sphere) termasuk pendidikan anak. Selain itu, realisasi dari pembentukan keluarga sakinah juga ditunjang oleh keikutsertaan mereka secara aktif dalam Jama’ah Tabligh. Dengan mengikuti Jama’ah Tabligh mereka mengaku semakin memahami agama serta mengetahui hakikat  tujuan  hidup  yang sesungguhnya,  yaitu  semata-mata hanya untuk  mengabdikan  diri  kepada Allah serta mengikuti sunnah Rasulullah. Disatu sisi, perempuan Jama’ah Tabligh adalah perempuan yang aktif. Mereka memiliki banyak agenda terutama dalam urusan agama. Hal ini dibuktikan dari keikutsertaan mereka dalam kegiatan masturoh, serta aktivitas-aktivitas public lainnya yang dapat menunjang ekonomi keluarga.

Buku ini diharapkan mampu meminimalisir pemberian label negative terhadap kaum perempuan oleh sebagian kalangan. Perempuan selama ini masih dianggap sebagai warga kelas dua (second class) di bawah laki-laki, yang hanya terampil dalam urusan domestic rumah tangga. Kajian gender tidak akan pernah usai, ia akan selalu menarik untuk diteliti dan dikaji karena nilai-nilai yang diangkat menyadarkan kita untuk selalu peka terhadap kesetaraan dan keadilan.

Dan akhirnya, puji syukur Alhamdulillah saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya,  sehingga buku  ini  dapat  terealisasikan. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membimbing serta memberikan masukan dan kritikan demi terwujudnya  buku  ini. Dalam  kesempatan  ini  saya didukung sepenuhnya oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS) Direktorat  Jenderal Pendidikan  Islam Kementerian Agama RI, saya haturkan segala hormat dan terimakasih yang tak terhingga atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk menerbitkan karya ini. Rangkaian terimakasih dan hormat  saya sampaikan kepada Prof. Noorhaidi  Hasan, M.A., Ph.D, selaku supervisor yang senantiasa meluangkan waktu serta memberikan arahan dan bimbingan untuk naskah ini, yang juga masih selalu mengajari saya untuk  ‘‘membaca‘‘ dan ‘‘menulis‘‘ hingga saat ini. Sahabat serta rekan di STAINU Madiun dan STAIN Ponorogo, anda semua adalah keluarga besar saya dalam mengabdi dan berkarya, terimakasih atas kebersamaan ini. Untuk Bapak dan Ibu, Mbak Ida, Mbak Ila serta Mas Riza (Alm). Terimakasih untuk kasih sayang dan pengorbananmu.

Akhir kata, saya persembahkan buku ini ke hadapan sidang pembaca. Semoga benar- benar menjadi bacaan yang bermanfaat. Selamat membaca!

Denpasar, 06 Januari 2016

Anis Hidayatul Imtihanah

Unduh E-Book : Disini